SPIRIT

Salah satu kunci karir adalah kepemimpinan yang bagus.
Dan salah satu tugas pemimpin adalah kemampuan untuk mengelola spirit, mengelola semangat kelompoknya.
Seorang pemimpin diangkat kelompoknya untuk mempersatukan mereka, mempersatukan menuju ke sebuah tujuan dan yang terpenting bagi pemimpin selain kejelasan tujuan itu sendiri adalah semangat, spirit yang harus ditularkan kepada anak buahnya. Bahkan semangat itu harus hidup di dalam sanubari pengikutnya dan menjadi 'roh' dari kelompok itu.Salah satu cerita yang menarik mengenai roh semangat ini adalah mengenai Ferdinand De Magelhaens, seorang nahkoda dan petualang berkebangsaan Portugis.
Pada suatu waktu Magelhaens berkeinginan untuk menemukan 'Pulau Rempah-rempah di Timur' dan demi tujuan itu, ia rela melepas kewarganegaraan Portugal dan menghadap Charles V, Raja Spanyol yang masih muda. Magelhaens meminta sang Raja untuk memberinya sebuah armada. Dia akan berlayar ke arah barat dan menemukan pulau rempah-rempah yang terletak di timur. Akhirnya oleh Charles ke V Magelhaens dibekali 5 buah kapal tua yang salah satunya diberi nama Victoria, artinya kemerdekaan. Dengan susah payah dia merekrut hampir 300 orang dari berbagai latar belakang, sikap, ukuran bentuk dan kewarganegaraan dan ia pun lalu berangkat menghadapi tantangan laut yang luar biasa.
Di tengah perjalanan mereka sempat kehabisan makanan dan tidak seekor ikan pun yang dapat ditangkap untuk dimakan, tidak ada daging yang masih tersisa. Ia mengatakan saya lebih baik makan kulit daripada kembali. Namun akhirnya mereka pun menemukan pulau rempah-rempah itu yang kini disebut sebagai Phillipina. Tiga tahun kemudian setelah Magelhaens meninggalkan Spanyol, penduduk melihat kapal yang berlayar dengan keadaan yang sudah sangat parah, itulah kapal Victoria-nya Magelhaens.
Dari lebih 200 orang yang berangkat tinggal 18 orang yang kembali dan Magelhaens, pemimpin mereka ternyata telah dikuburkan di Filipina. Jadi ketika mereka kembali ke Spanyol mereka sebenarnya kembali tanpa pemimpin mereka. Inilah semangat yang telah dipompakan oleh pemimpin mereka agar sampai kepada tujuan mereka, pulau rempah-rempah.Apa yang kita dapat simak dari kisah ini?
Tujuan telah menjadi obsesi dari seorang Magelhaens, semangatnyanya yang luar biasa telah menular kepada seluruh anak buah, bahkan semangat itu tetap hidup ketika dia sudah meninggal. Salah satu ciri pemimpin yang hebat adalah mempunyai semangat yang tinggi. Jika pemimpin saja tidak mempunyai spirit yang tinggi, tidak punya optimisme yang tinggi, bagaimana dia bisa memberi semangat kepada orang lain? Dan keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh bagaimana dia menularkan semangat itu kepada pengikutnya.
Ketangguhan pemimpin dalam memelihara spirit pengikutnya juga diuji dalam mission impossible. Salah satu kisah yang legendaris sebagai mission impossible ini adalah kisah Mao Xe Dong dengan long march-nya di bulan Oktober tahun 1934. Pada waktu itu serangan udara Komintang menghancurkan benteng-benteng tentara merah di Kiangshi. Mao berniat untuk mengadakan perjalanan kaki menuju daerah konsentrasinya sejauh 10.000 kilometer. Rombongan besar manusia yang panjang memutar, melilit melintasi gunung yang bergerak hanya pada malam hari, meniti jalan setapak sambil memegangi obor, dan untuk masa yang hampir satu tahun lamanya. Mao kadang membuka mantelnya dan memberikan kepada seorang serdadu yang kedinginan, suatu tindakan yang pernah melegenda. Baru dua minggu menjelang satu tahun, akhirnya sampailah mereka di Shensi - tujuan akhir mereka - pada tanggal 20 Oktober tahun 1935 dengan sisa hanya sedikit orang dan dalam keadaan lemah.Lalu apa sih rahasianya memimpin suatu gerakan mission impossible ini?
Yang pertama, kita harus pandai menemukan arti dari tantangan dengan mengerjakan mission impossible tadi. Karena menemukan arti ini kita akan dapat menjiwai dan menikmati "tugas kita". Bekerja dengan jiwa akan menumbuhkan daya juang, spirit untuk all out, dengan segenap potensi dan sumber daya yang ada.
Yang kedua, kita harus memupuk kepercayaan diri kelompok. Daya juang ada kalanya melemah begitu terbentur tembok kesulitan. Pemimpin yang baik berperan dalam mengembalikan kepercayaan diri orang-orangnya, bahwa di balik kesukaran ini ada energi ekstra yang belum pernah terpakai.
Yang ketiga, penting tentu kelompok harus mempercayai pemimpinnya. Kredibilitas pemimpin sangat berperan di sini. Singkat kata, seorang pemimpin sejati mampu mengobarkan semangat, tidak ada yang tidak mungkin bagi para pengikutnya.Seseorang pemimpin perlu mempertimbangkan keunikan, kebutuhan dan harapan setiap anak buah dan harus mampu mengenali pendorong-pendorong utama apa saja yang dijadikan landasan motivasi untuk bekerja.
Tahapan ini merupakan tahapan awal untuk dapat mengimplementasikan proses kepemimpinan dan pemberian motivasi. Akan tetapi, tugas utama seorang pemimpin sebenarnya tidak hanya berhenti pada mengenali dan memanfaatkan "motivator" kerja anak buah semata, tetapi juga dihadapkan pada kewajiban untuk dapat "mengembangkan" kualitas dari motivator yang dimiliki anak buah dengan tujuan memudahkan proses pembinaan motivasi selanjutnya dan sebenarnya, secara tidak langsung juga telah memberikan kontribusi bagi pengembangan diri anak buah.
Agar pemimpin dapat memotivasi anak buah dengan lebih mudah, diperlukan kemampuan untuk dapat menunjukkan "arti" dari pekerjaan yang akan dilakukan dan menunjukkan "keuntungan" yang akan diraih. Akan tetapi, tidak semua keuntungan dapat dengan mudah dinyatakan dan tidak semua keuntungan dapat dengan cepat diperoleh.Lalu bagaimana cara kita meyakinkan anak buah bahwa apa yang kita janjikan akan benar-benar membawa nilai positif?
Dalam kondisi seperti ini, pemimpin sebaiknya dengan cerdik memanfaatkan kepandaian berkomunikasi agar dapat menggambarkan peluang pencapaian secara lebih meyakinkan.Keyakinan dan kepercayaan anak buah juga dapat ditingkatkan dengan cara menunjukkan kepada mereka bahwa pemimpin juga "percaya" bahwa tujuan dan keuntungan yang akan dicapai bukanlah hal yang mustahil. Justru tantangan seperti inilah yang dihadapi pemimpin masa kini, bagaimana kemampuan mereka dalam mengubah pola pikir jangka pendek menjadi jangka panjang.
Dalam proses pelaksanaan kerja, kadangkala anak buah kehilangan motivasi karena tidak dapat melihat arti dan keuntungan dari apa yang sedang dilakukan. Dalam kondisi seperti ini, pemimpin perlu memberikan "sinyal" kemajuan dan keberhasilan yang telah dicapai, dengan tujuan membuka mata anak buah dan mengembalikan kepercayaan dirinya.Dalam kondisi stagnan di mana tidak terdapat kemajuan apa-apa, peran pemimpin beralih untuk memberikan dukungan nyata terhadap proses penyelesaian masalah, agar anak buah tetap dapat mempertahankan semangat kerja dan dapat melihat peluang perbaikan yang dapat dilakukan.Jadi, hakekat untuk menjaga motivasi dan spirit anak buah adalah "jangan pernah meninggalkan anak buah dalam kondisi yang tidak menyenangkan dan bahkan akan memberikan "kekuatan" yang dimiliki sebagai sarana penolong".
"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

No comments: