Mulai dari yang kecil ...



Hari Kebangkitan Nasional Tahun ini terasa beda. Ya selain karena ini adalah 100 abad Kebangkitan Nasional, tahun ini juga terjadi beberapa “kericuhan” nasional.
Hukum sebab akibat selalu ada. Dan mungkin sekarang kita sedang merasakanya.
Mulai dari bencana alam; seperti banjir, tanah longsor, badai dan gempa.
Dan tidak lupa “Status Bencana Nasional” yang belum di”cabut” dari Lumpur Lapindo di Sidoarjo.


Maraknya tindakan kriminal, kekerasan bahkan mulai dari “tangan kosong” sampe pake senjata api.
Baru baru ini naiknya BBM menambah cerita cerita sendu Bangsa Indonesia dengan di bumbui sedikit pro dan kontra.
Sedangkan di “sebrang” maraknya “uang deras” yang mengalir untuk mengangkat manusia manusia yang dianggap pantas menjadi wakil rakyat, menjadi khalifah dengan jabatan dunia Gubernur Daerah !

Kebangkitan Nasional dengan sontakan kata ! INDONESIA BISA !!!
Diharapkan mampu memberikan kesejukan di “panasnya” hidup
Menumbuhkan asa yang mulai tipis …
Saya dan mungkin masih banyak orang lagi, ingin bisa ikut serta dalam “perayaan” ini.
Ya, mungkin kami tak bisa bernyanyi, tak bisa menari, tak bisa berpuisi.
Bahkan kami jelas tak mampu menyisihkan uang yang kami tak punya, Menyumbangkan baju bekas yang kami pakai.

Kami hanya bisa memberikan senyum…
Mengirimkan tawa…
Menopang pundak …
Sampai dengan memungut puntung rokok …

Agar kami bisa merasakan 100 ABAD KEBANGKITAN NASIONAL !

Melakukan hal “kecil” diantara rencana besar yang hanya bisa kami lakukan. BISA !!!


"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

Setting Phototaking The Sun Hotel



Wah sudah lama nich gak “menengok” blog.
Hampir sebulan deadline pekerjaan menghabiskan waktu.
By the way Bulan April lalu, tepatnya tgl 22 – 24 April 2008, kita ada project Phototaking.
Kalau dilihat dari Billing sich kecil, tapi lumayan buat portfolio kantor.
Kliennya hotel di Daerah Sidoarjo, dan kita harus taking semua item hotel, 
untuk kebutuhan marketing kits. Selama 3 hari penuh .


Hari Pertama :
Jadwal hari ini kita mau foto Suite Room (Included Living Room)
Jujur aja ini adalah pengalaman pertama terjun langsung untuk Photo Session.
Pernah sich dulu jadi coordinator, tapi hanya ngatur jadwal by phone dan gak terjun langsung.
Taking pertama kita ambil living room, sedangkan team dari hotel lagi setting kamarnya.
Ternyata begitu complicated untuk sekedar ambil gambar sebuah “living room”
Mulai dari Angle nya, Setting barang2 yang ada, Ambience,
dan yang paling bikin capek adalah setting lighting nya.
Mulai dari Jam 18.00 sampai jam 23.00 akhirnya selesai, HANYA UNTUK LIVING ROOM!
Sedangkan untuk kamar di switch ke jam dini hari karena mau ngejar Sunrise.
Lanjut makan malam di TESSERA RESTOURANT ,
kita langsung lanjut ambil ruangan ini sekalian.
Tepat pukul 03.00 kita balik ke kamar untuk siap siap ambil foto kamar.
Ada kejadian lucu disini (menurut aku), setelah ambil seluruh set item,
tinggal menuggu view sunrise di jendela,
eh tiba tiba embun dateng bikin kaca kamar jadi buram gak karuan.
Mau di bersihkan, eh ternyata yang berembun bagian luar,
dan notobene kita ada dilantai 5 (yang bagian luarnya gak pake balkon)
Jadi aja dech ribet nelponin bagian house keeping untuk bantu ngelapin kaca,
untung aja keburu ngejar sunrise nya .


Hari Kedua :
Akhirnya kita tidur semua sampai jam 12 Siang. Planning hari ini ambil vie Ballroom, Lobby, Hotel tampak depan , Pool Side dan Venus Room Meeting.
Tidak terlalu ribet karena kita sudah mulai antisipasi kemungkinan kemungkinan yang terjadi,
terutama untuk kelengkapan barang barang yang mau di foto (table manner)
Tepatnya jam 14.00 - 17.00 seluruh ballroom dan lobby selesai diambil,
dan waktu Sunset kita ambil Hotel tampak depan,
karena kita pikir dengan lighting malam hotel akan tampak bagus di kamera.
Yang bikin kerja tambahan adalah kondisi kamar yang gak bisa dinyalakan semua kamarnya,
karena sebagian udah ada tamunya, yach ini kerjaan tambahan buat kreatif .
Tepat pukul 19.00 kita selsai dan lagsung makan malam, luaper uey ;-)
Jam 21.00 kita start ambil pool side, paling asyik ambil setting pool side karena ditambahi dengan item item minuman yang tentunya setelah difoto , kita minum rame rame ehehehe .
Seharusnya setelah ini kita foto room meeting, tapi ternyata rungan yang jadi target sedang dipakai,
akhirnya kita pindah ke Mars Meeting Room.
Dengan mata sudah tinggal separuh kita paksain untuk setting dan ambil foto room meeting.


Hari Ketiga :
Akhirnya badan ini bisa nempel kasur,
tepatnya pukul 03.30 saat Manchester United lagi sibuk hajar Barcelona di Piala Champion.
Sesambil istirahat kita ambil beberapa cameo image di kamar.
Hasilnya lumayan lah meskipun kondisinya gak terlalu fit.
Tepat pukul 11.00 kita sudah siap Check out hotel,
Say goodbye untuk Team hotel yang sudah maksimal membantu kami .

Surabaya … We’re coming !!!!



"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

CSR beda versi ...



Corporate Social Responsibility atau lebih dikenal dengan CSR sudah menjadi alternatif aktivitas promosi
akhir akhir ini. Kalau didalam istilah finance ada financial hedging maka 
di Social ada social hedging. 
Objectivenya sich perusahaan pengen meniadakan Social Hedging.
Atau masalah masalah sosial yang timbul dengan keberadaan perusahaan. Dan mungkin bila masalah social muncul biayanya lebih besar 
dibanding jika kita memantain sedari awal.

Kaitanya dengan TWP (tempat saya bekerja adalah) :

CSR seperti apa yang pernah kami lakukan
(meskipun levelnya dan budgetnya tidak sebesar perusahaan besar).

Sebelumnya kami pernah menangani
- Penanaman 1000 pohon oleh Sampoerna Hijau.
- Gerakan cuci tangan pake sabun 1000 orang oleh ESP- USAID 

kalau dibandingkan dengan 2 kegiatan ini saja TWP sudah kalah kelas.
yang bisa kami lakukan sekedar ;
- Memberi bantuan (sembako) ke petugas keamanan sekitar kantor
   (komunitas kecil di area kantor)
- Mendekatkan diri dengan para officer (salah satu stakeholder TWP) 
   dengan shalawatan bareng dan futsal bareng.
- Zakat tahunan

ehm, kliatanya hanya itu, itupun masih dalam skup kecil.

ya moga moga next time kita bisa melakukan yang lebih baik lagi ;-)

any comment ? 



 

"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

KENALI TWP !!!

CAKRAM FOKUS
EDISI BISNIS KOMUNIKASI DAERAH 02/2008





"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

Client Komplain ??? Wajar dunkx !


Mungkin selain mendapatkan sebuah project/klien salah satu tugas berat seorang Account Executive adalah
"How to Maintenance Our Client"
Dengan begitu banyaknya project yang masuk, berarti bertambah pula tugas seorang AE untuk menjaga ritme pekerjaan yang sedang ditangani, agar semua dapat terkendali, dan dapat setor ke klien dengan tenang, karena si klient menerima hasil kerja kita dengan senang.
Bagaimana jika hasil yang muncul sebaliknya ?


Si klient pasti akan melancarkan jurus andalan "Jurus Cacian Seribu", karena merasa amanah yang telah mereka titipkan kepada kita di"khianati". Hasil pekerjaan kita bukannya membantu meringankan beban klien, malah menambah "Bobot"nya.
Contoh kasus;
Kantor ku dapet klient baru untuk cetak organizer, niat saya ingin memberikan pengalaman baru pada team, jadi ini klien saya serahkan team saya yang notabene memang tergolong baru untuk project yang bersifat merchandise.
Walhasil, selama beberapa hari (proses cepat) terjadilah deal harga dengan spesifikasi yang disetujui bersama (yang ternyata beda persepsi).
Benarlah, setelah dicek ke produksi ternyata kita salah harga, sedangkan klien sudah "koar-koar" ke pimpinannya dengan membawa contoh dan harga yang sebenarnya tidak sesuai.
Kami akhirnya memutuskan mundur dengan syarat, akan menawarkan harga baru sesuai spec yang klien inginkan.
Tanpa pikir panjang dan atas nama "kredibilitas personal" client membabi buta KOMPLAIN ke kita. Yang mengatakan ini itu , yang intinya kita bekerja tidak secara profesional. dan sampai sekarang kasus ini terselesaikan dengan perlahan, alias si klien hilang berikut project nya.
Lain halnya:
Semalam kita harus fighting memenuhi order dari klien (yang sudah loyal dengan kita) dengan berbagai cara, bagaimanapun kondisinya order ini harus kami selesaikan malam ini. Karena si klien sebagai kontak kita sudah menjamin ke "para Bos besar" bahwa order dapat diselesaikan malam ini.
Sampai lokasi bukan salam hangat yang saya dapat, malah "omelan" dan kekesalan karena kami terlambat memenuhi order. Selama beberapa jam suasana dingin dan kaku ada. Setelah kami menyelesaikan pekerjaan, dan para BOS besar sudah memberikan tanda "Senyum dan anggukan" . Kami akhirnya bisa ngobrol enak. saya ceritakan kejadian kejadian yang menggangu proses pengerjaan order, dan si client pun minta maaf karena telah bersikap kasar, meskipun pada dasarnya kamilah yang salah dalam posisi ini.
Setelah suasana cair, Si Bos besar malah menawari kami untuk menghandle project besar lainnya, yang tentu saja tanggung jawabnya juga semakin besar.
Hikmahnya, tidak semua klien yang komplain itu marah pada kita, bisa jadi mereka tertekan oleh keadaan, situasi kerja, permintaan atasan dll.
So, tetap tersenyum dan sabar meskipun klien sedang mengkomplain kita. Bagaimanapun kondisinya "klien juga manusia", yang menjadi kepanjangan tangan dari "kepentingan-kepentingan yang lebih besar" lagi diatasnya.
"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

"Bisnis" bareng "Nurani" ! Sumpah, pengen banget !!!



Saya sempet berpikir, bagaimana sebuah konsep komunikasi dapat diterima dengan baik oleh klien dan juga oleh orang-orang disekitar yang dapat merasakan keberadaan acara yang kami usung.

Jadi tidak hanya sekedar Billing atau Margin yang kami kejar, tapi juga kepuasan batin.
Dimana tidak hanya siklien yang senang, tapi juga orang-orang lain yang ber"dempetan" langsung dengan produk/jasa yang sedang kami komunikasikan.


Memang saat ini sulit sekali mengaplikasinya, mungkin karena :
1. Klien punya Bisnis Objective nya sendiri yang harus segera diaplikasikan
2. Kamipun begitu ...
3. Masyarakat umum pun punya keinginan sendiri, yang menurut mereka sudah "ideal".
meskipun terkadang ketiganya tidak bisa berjalan dalam satu jembatan.

Gesekan-gesekan kepentingan yang membuat kami sering kali harus "melindungi" kepentingan klien, faktanya mereka yang "membayar" kami. Dan kami hidup dari itu.

Sekilas event kami (09-02-2008) mungkin bisa jadi cerminan. 
Kapan bisnis bisa sejalan dengan hati nurani, dengan rasa welas asih, dengan hal hal yang bersifat sosial dan "iming-iming" demi kebaikan orang banyak.

Tentu saja tanpa melupakan, yang namanya bisnis harus "MARGIN" dari sisi perusahaan kami.

Tanggal 09 Februari 2008
Launching perumahan baru (KNV) yang notabene untuk memperbaiki kualitas hidup para pengungsi korban lapindo (niat dari si klien) ternyata tidak bisa sejalan dengan keinginan para demonstran yang menuntut "keadilan" (menurut mereka).

Para demontrans marah :
1. menganggap acara ini, adalah  salah satu cara (MLJ) lari dari tanggung jawab.
2. menganggap acara ini, adalah salah satu cara mengadu domba "korban lapindo"
3. menganggap acara ini, memnag "TIDAK LAYAK" untuk diadakan.

Sedangkan kami berdiri diantara dua kepentingan yang sudah jelas jelas bertolak belakang.
meskipun dari sisi kami lebih menguntungkan kalo lebih memprioritaskan kepentingan klien.

Apa boleh buat ...kami "dibayar" oleh siklien dan bukan oleh orang-orang itu, jadi kami wajib "melindungi" kepentingan klien.

Saya gak bisa memaksakan "1 keinginan" yang bersifat personal, dengan mengorbankan kepentingan team. Meskipun dari awal berjalan, saya sudah tidak bisa menerima cara si klien dalam berbisnis.

Kembali lagi ... Apa boleh buat ...kami "dibayar" oleh siklien dan bukan oleh orang-orang itu. Meskipun dengan analisa wajar, kami bisa menemukan "kebenaran" meski sangat kecil kemungkinannya untuk di munculkan.

Pertanyan saya, kalaupun ada tingkatanya, sudah sampai mana tingkat profesionalisme yang saya/kami/perusahaan terapkan ???

"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?