CSR beda versi ...



Corporate Social Responsibility atau lebih dikenal dengan CSR sudah menjadi alternatif aktivitas promosi
akhir akhir ini. Kalau didalam istilah finance ada financial hedging maka 
di Social ada social hedging. 
Objectivenya sich perusahaan pengen meniadakan Social Hedging.
Atau masalah masalah sosial yang timbul dengan keberadaan perusahaan. Dan mungkin bila masalah social muncul biayanya lebih besar 
dibanding jika kita memantain sedari awal.

Kaitanya dengan TWP (tempat saya bekerja adalah) :

CSR seperti apa yang pernah kami lakukan
(meskipun levelnya dan budgetnya tidak sebesar perusahaan besar).

Sebelumnya kami pernah menangani
- Penanaman 1000 pohon oleh Sampoerna Hijau.
- Gerakan cuci tangan pake sabun 1000 orang oleh ESP- USAID 

kalau dibandingkan dengan 2 kegiatan ini saja TWP sudah kalah kelas.
yang bisa kami lakukan sekedar ;
- Memberi bantuan (sembako) ke petugas keamanan sekitar kantor
   (komunitas kecil di area kantor)
- Mendekatkan diri dengan para officer (salah satu stakeholder TWP) 
   dengan shalawatan bareng dan futsal bareng.
- Zakat tahunan

ehm, kliatanya hanya itu, itupun masih dalam skup kecil.

ya moga moga next time kita bisa melakukan yang lebih baik lagi ;-)

any comment ? 



 

"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

KENALI TWP !!!

CAKRAM FOKUS
EDISI BISNIS KOMUNIKASI DAERAH 02/2008





"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

Client Komplain ??? Wajar dunkx !


Mungkin selain mendapatkan sebuah project/klien salah satu tugas berat seorang Account Executive adalah
"How to Maintenance Our Client"
Dengan begitu banyaknya project yang masuk, berarti bertambah pula tugas seorang AE untuk menjaga ritme pekerjaan yang sedang ditangani, agar semua dapat terkendali, dan dapat setor ke klien dengan tenang, karena si klient menerima hasil kerja kita dengan senang.
Bagaimana jika hasil yang muncul sebaliknya ?


Si klient pasti akan melancarkan jurus andalan "Jurus Cacian Seribu", karena merasa amanah yang telah mereka titipkan kepada kita di"khianati". Hasil pekerjaan kita bukannya membantu meringankan beban klien, malah menambah "Bobot"nya.
Contoh kasus;
Kantor ku dapet klient baru untuk cetak organizer, niat saya ingin memberikan pengalaman baru pada team, jadi ini klien saya serahkan team saya yang notabene memang tergolong baru untuk project yang bersifat merchandise.
Walhasil, selama beberapa hari (proses cepat) terjadilah deal harga dengan spesifikasi yang disetujui bersama (yang ternyata beda persepsi).
Benarlah, setelah dicek ke produksi ternyata kita salah harga, sedangkan klien sudah "koar-koar" ke pimpinannya dengan membawa contoh dan harga yang sebenarnya tidak sesuai.
Kami akhirnya memutuskan mundur dengan syarat, akan menawarkan harga baru sesuai spec yang klien inginkan.
Tanpa pikir panjang dan atas nama "kredibilitas personal" client membabi buta KOMPLAIN ke kita. Yang mengatakan ini itu , yang intinya kita bekerja tidak secara profesional. dan sampai sekarang kasus ini terselesaikan dengan perlahan, alias si klien hilang berikut project nya.
Lain halnya:
Semalam kita harus fighting memenuhi order dari klien (yang sudah loyal dengan kita) dengan berbagai cara, bagaimanapun kondisinya order ini harus kami selesaikan malam ini. Karena si klien sebagai kontak kita sudah menjamin ke "para Bos besar" bahwa order dapat diselesaikan malam ini.
Sampai lokasi bukan salam hangat yang saya dapat, malah "omelan" dan kekesalan karena kami terlambat memenuhi order. Selama beberapa jam suasana dingin dan kaku ada. Setelah kami menyelesaikan pekerjaan, dan para BOS besar sudah memberikan tanda "Senyum dan anggukan" . Kami akhirnya bisa ngobrol enak. saya ceritakan kejadian kejadian yang menggangu proses pengerjaan order, dan si client pun minta maaf karena telah bersikap kasar, meskipun pada dasarnya kamilah yang salah dalam posisi ini.
Setelah suasana cair, Si Bos besar malah menawari kami untuk menghandle project besar lainnya, yang tentu saja tanggung jawabnya juga semakin besar.
Hikmahnya, tidak semua klien yang komplain itu marah pada kita, bisa jadi mereka tertekan oleh keadaan, situasi kerja, permintaan atasan dll.
So, tetap tersenyum dan sabar meskipun klien sedang mengkomplain kita. Bagaimanapun kondisinya "klien juga manusia", yang menjadi kepanjangan tangan dari "kepentingan-kepentingan yang lebih besar" lagi diatasnya.
"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

"Bisnis" bareng "Nurani" ! Sumpah, pengen banget !!!



Saya sempet berpikir, bagaimana sebuah konsep komunikasi dapat diterima dengan baik oleh klien dan juga oleh orang-orang disekitar yang dapat merasakan keberadaan acara yang kami usung.

Jadi tidak hanya sekedar Billing atau Margin yang kami kejar, tapi juga kepuasan batin.
Dimana tidak hanya siklien yang senang, tapi juga orang-orang lain yang ber"dempetan" langsung dengan produk/jasa yang sedang kami komunikasikan.


Memang saat ini sulit sekali mengaplikasinya, mungkin karena :
1. Klien punya Bisnis Objective nya sendiri yang harus segera diaplikasikan
2. Kamipun begitu ...
3. Masyarakat umum pun punya keinginan sendiri, yang menurut mereka sudah "ideal".
meskipun terkadang ketiganya tidak bisa berjalan dalam satu jembatan.

Gesekan-gesekan kepentingan yang membuat kami sering kali harus "melindungi" kepentingan klien, faktanya mereka yang "membayar" kami. Dan kami hidup dari itu.

Sekilas event kami (09-02-2008) mungkin bisa jadi cerminan. 
Kapan bisnis bisa sejalan dengan hati nurani, dengan rasa welas asih, dengan hal hal yang bersifat sosial dan "iming-iming" demi kebaikan orang banyak.

Tentu saja tanpa melupakan, yang namanya bisnis harus "MARGIN" dari sisi perusahaan kami.

Tanggal 09 Februari 2008
Launching perumahan baru (KNV) yang notabene untuk memperbaiki kualitas hidup para pengungsi korban lapindo (niat dari si klien) ternyata tidak bisa sejalan dengan keinginan para demonstran yang menuntut "keadilan" (menurut mereka).

Para demontrans marah :
1. menganggap acara ini, adalah  salah satu cara (MLJ) lari dari tanggung jawab.
2. menganggap acara ini, adalah salah satu cara mengadu domba "korban lapindo"
3. menganggap acara ini, memnag "TIDAK LAYAK" untuk diadakan.

Sedangkan kami berdiri diantara dua kepentingan yang sudah jelas jelas bertolak belakang.
meskipun dari sisi kami lebih menguntungkan kalo lebih memprioritaskan kepentingan klien.

Apa boleh buat ...kami "dibayar" oleh siklien dan bukan oleh orang-orang itu, jadi kami wajib "melindungi" kepentingan klien.

Saya gak bisa memaksakan "1 keinginan" yang bersifat personal, dengan mengorbankan kepentingan team. Meskipun dari awal berjalan, saya sudah tidak bisa menerima cara si klien dalam berbisnis.

Kembali lagi ... Apa boleh buat ...kami "dibayar" oleh siklien dan bukan oleh orang-orang itu. Meskipun dengan analisa wajar, kami bisa menemukan "kebenaran" meski sangat kecil kemungkinannya untuk di munculkan.

Pertanyan saya, kalaupun ada tingkatanya, sudah sampai mana tingkat profesionalisme yang saya/kami/perusahaan terapkan ???

"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

Antara Kopi dan Cangkir


... ..."life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups.
They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.
Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided.
So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead"... ... ...

Sebuah kutipan dari (refrinal.blogspot.com) membuat saya sedikit tertegun, perlahan mengartikan makna dari kalimat tersebut. Membuat saya bercermin dan berpikir... ... atas hal hal yang selama ini saya lakukan untuk mengisi hidup.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan yang ini.


Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -- artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan -- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan. Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, ‘Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?’ Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembab: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Enjoy your coffee, my friend!

Any comment ???


"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?

"MOMOK" akhir tahun ... ...


TARGET ditentukan ...
SASARAN dikerucutkan ...
TEAMWORK dibentuk ...
SYSTEM dijalankan ...
SLOT tambahan dimunculkan ...(bonus&tunjangan)

kira kira apalagi yang kurang ???
kenapa hasilnya kurang memuaskan, apalagi dibandingkan dengan target billing dari perusahaan, jauuuuhhhhhh ;-)
berulang ulang dan hampir tiap tahun selalu hal yang terjadi, dan selalu alasan yang sama muncul, " targetnya kegedean sich..." .

target billing yang ditentukan seringkali menjadi "momok" akhir tahun,
padahal evaluasi selalu dilakukan, target tahun ini dibikin dengan melihat tahun tahun yang lalu.
tetapi seringkali hasil yang didapat belum bisa membuat perusahaan tersenyum pada kita.

beberapa orang yang telah sukses memberikan rumusan,
SUKSES = 3K (kemauan,keilmuan,kesempatan)
rumus yang kliatannya lebih simple dibandingkan rumus Phytagoras.
rumus yang kliatannya memberikan kita harapan untuk menjadi lebih baik.
rumus yang seakan membuat segalanya menjadi lebih mudah.

alhasil, pertanyaan pertanyan yang sama yang selalu Saya lontarkan,
Bisa nggak ya munculin 3K dalam rutinitas Saya ???
Bisa nggak lingkungan mendukung saya agar bisa lakuin rumus itu ???
Bisa nggak ... ...???
Bisa nggak ... ...???
selalu saja seperti itu,
dan jujur saya anggap ungkapan saya tersebut malah menyiutkan mental saya.


Akhirnya saya putuskan untuk menyampingkan semua pertanyaan pertanyaan "NEGATIVE" dalam benak saya.

dan saya putuskan untuk "TIDAK PERNAH BERHENTI MENCOBA !!! "

semoga realita yang ada sesuai dengan mimpi Saya . Semangaatttt !!!


dengan begitu "MOMOK" akhir tahun berubah menjadi "MONEY" akhir tahun ;-) ehehehehe




salam,





"Jangan mengiklankan merek Anda, tapi hidupkan" - Phillip Kotler

Lanjut?